Asal Usul Anak Muda, Jujur Saja …

Anak-anak muda menuntut hak untuk memperoleh giliran memimpin. Sayang tak ada penjelasan mengenai memimpin apa. Sesudah deklarasi yang disiarkan Metro TV malam itu, suasana senyap kembali, seperti tak pernah terjadi apa pun. Ada tanggapan ala kadarnya dari Wapres Jusuf Kalla yang tak bergema secara luas. Kemudian muncul sebuah tulisan di media, yang tak cukup meyakinkan, bahwa kaum muda memang bersungguh-sungguh. Generasi muda, harapan bangsa, ternyata juga tak punya konsep tentang kepemimpinan, terobosan terhadap krisis, dan jawaban tentang ke-Indonesia-an masa depan.

Apa yang mereka maksud memimpin? Sudah begitu banyak anak muda menjadi anggota DPR, tetapi kekuasaan membuat mereka terbius dan kesudahannya hanya sibuk memperkaya diri.

Ada pula di antara mereka yang menjadi menteri, tetapi tak tampak hal yang mencolok mata. Misalnya, minimal, hidup sederhana, memahami kesusahan rakyat, memiliki empati dan sikap populis, serta tidak memewahkan diri.

Pekerjaan semudah ini saja tak bisa dipenuhi. Apalagi diminta berprestasi. Lalu, siapa anak muda yang merasa siap dan menganggap sudah tiba waktunya memimpin ini?

Kalau mereka datang dari kalangan yang sudah disebut di atas, daya tarik apa yang hendak ditawarkan kepada publik? Rakyat sudah bosan melihat “wayang” politik yang pemain-pemainnya sudah kehilangan inspirasi dan daya juang. Kita tak lagi memiliki tokoh politik yang agak sedikit otentik. Kita tak punya tokoh yang patut disebut pejuang atau patriot.

Kualitas tokoh politik kita hanya setingkat dengan stereotip yang kita lekatkan kepada pegawai negeri: seadanya, kurang kreatif, ogah berinisiatif, dan gigih menjaga “tradisi” tak bertanggung jawab.

Dibandingkan dengan tokoh-tokoh bisnis, tokoh media, tokoh keilmuan, dan tokoh lembaga swadaya masyarakat, tokoh politik kita jauh tertinggal. Di dalam bidang-bidang tadi mereka berjuang dengan segala risiko dan lebih dari layak disebut pemimpin.

Maka, tak ada di antara mereka yang ikut merengek minta kesempatan memimpin karena mereka sudah menjadi pemimpin. Mereka tumbuh dari pergulatan nyata, sedang para tokoh politik kita direkrut partai-partai politik yang agak busuk bagian dalamnya dan tak punya visi besar yang tampak segar di luarnya.

Pada zaman gerakan mahasiswa tahun 1977/78 dulu ada seruan dari salah seorang mahasiswa Universitas Indonesia, minta agar di DPR/MPR ada wakil mahasiswa. Dulu saya juga mahasiswa, tetapi saya tidak tertarik sama sekali mengikuti pandangan politik macam ini.

Kepemimpinan datang tidak dari kesempatan yang “diberikan” secara bergantian, seperti dalam suatu arisan, melainkan dari prestasi yang tampak oleh publik dan mendapat pengakuan publik. Alam memang mengatur yang tua otomatis lengser. Tetapi, tak semua yang muda dengan sendirinya boleh nangkring begitu saja. Kecuali, sekali lagi, bila kita bicara tentang mekanisme politik yang tak pernah, atau jarang sekali, bicara tentang kompetensi.

Dalam sebuah seminar di IAIN Sunan Kalijaga di Yogya sekitar tahun 1993, ada mahasiswa yang meminta agar saya tak menulis resensi buku.

“Biarkan resensi buku itu menjadi bagian teman-teman mahasiswa. Sampean menulis esei saja,” kata dia. Saya pun menuruti “nasihat” itu.

Menulis esei tidak mudah. Pada zaman saya belajar menulis sudah banyak nama-nama beken yang sangat mapan. Tetapi, saya tak pernah meminta kepada, misalnya Emha Ainun Nadjib atau Goenawan Mohamad, untuk tidak lagi menulis supaya tulisan-tulisan saya yang dimuat media.

Jurang antargenerasi memang sering menganga lebar. Dalam sejarah, ketegangan antargenerasi muncul dalam pergolakan pemikiran antara yang muda ”maju, dinamis, progresif-revolusioner ”berhadapan dengan golongan tua” konservatif, lamban, memuja masa lalu, dan memelihara adat” seperti, misalnya, pergolakan kaum muda dan kaum tua di Minangkabau.

Namun, itu pergolakan pemikiran. Sumpah Pemuda lahir dari pemikiran, diteriakkan dalam perjuangan pemikiran dalam memandang masa depan. Cipto Mangunkusumo melawan Sutatmo Suryo Kusumo pada tahun 1918 dalam perdebatan ide dan aspirasi kultural yang jelas dalam memandang masa depan bangsa.

Polemik kebudayaan lahir dari ketegangan pemikiran. Ahmad Wahid bergolak pada zaman tenang lewat pemikiran. Mengapa pada abad kegelapan dan zaman penuh kebuntuan sekarang tak lahir percikan pikiran? Mengapa yang lahir hanya kehendak berkuasa yang dibangun di atas asumsi bahwa kekuasaan bisa diatur bergiliran?

Berkali-kali saya hadir, bahkan diminta pidato, dan agak berapi-api, dalam deklarasi partai milik anak-anak muda yang segar wawasannya, jernih naluri politiknya, dan berani gigih bekerja. Di tengah-tengah mereka, saya membayangkan generasi Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Melaka.

Saya tak peduli dianggap muda apa tua, saya berpihak kepada mereka yang muda dan bergolak. Tetapi, terhadap anak muda yang hanya meminta ”tanpa konsep, tanpa kesiapan”, saya merasa betapa jauh jarak kita sekarang dengan generasi Bung Karno dan Bung Hatta.

Kita merosot di titik mengenaskan. Zaman memang sudah berubah. Tetapi, dalam perubahan itu haruskah kita tak berpikir melainkan hanya mengharap sambil menunggu kemurahan alam yang akan memberi yang muda momentum emas untuk memimpin?

Apa yang mau dipimpin kalau anak muda hanya siap untuk membacakan sebuah deklarasi?

Jujur saja, paragraf-paragraf di atas bukanlah hasil renunganku sendiri, dan bahkan aku hanya sekedar meng-copy paste dari suatu milis yang aku ikuti. Uneg-uneg tersebut merupakan keprihatinan Mohamad Sobary atas apa yang dia rasakan tentang kondisi anak muda saat ini, yang harus akui berhasil menyentil diriku yang selama ini petentang-petenteng menganggap diri sebagai anak muda.

Jujur saja, kadang aku merasa tidak adil ketika ada orang yang membanding-bandingkan “generasiku” saat ini dengan generasi pemuda jaman Soetomo, Cipto Mangunkusumo, Soekarno, Mohammad Hatta, atau bahkan Syahrir dan Tan Melaka. Zaman jelas berbeda, kondisi masyarakat jelas berbeda, ketika kemerdekaan dari penjajahan adalah tujuan bersama, maka mayoritas rakyat Indonesia, tua dan muda, akan bersatu mencapai tujuan kolektif tersebut. Alhasil, kondisi tersebut merupakan lahan subur bagi setiap orang yang meneriakkan kemerdekaan, yang memang didominasi oleh anak-anak muda – itupun oleh mereka-mereka yang “beruntung” mendapatkan kesempatan “pendidikan tinggi” yang tidak semua anak muda bisa mendapatkannya -, untuk beraktualisasi atas nama nasionalisme.

Jujur saja, dulu aku merasa bahwa generasiku tidak kalah kualitas dengan generasi yang disebutkan oleh Mohamad Sobary di atas. Ketika isu kemerdekaan dari penjajah tidak lagi aktual, ketika tidak ada lagi grand issue yang dapat mempersatukan anak muda, maka sah-sah saja jika generasiku kemudian berkreasi dalam fragmentasi wilayah ide-ide yang hanya mempunyai lingkup, daya tarik, dan gema yang “hanya sebegitunya”.

Jujur saja, dulu aku yakin bahwa sampai saat ini nasionalisme generasiku tidak kalah dengan generasi dulu. Generasiku adalah generasi yang bisa mengambil pelajaran dari sejarah generasi sebelumnya. Bukankah dengan prestasi di bidang akademis, prestasi di bidang seni, prestasi di bidang olahraga suatu saat juga akan membawa nama baik bangsa, setara dengan mereka-mereka yang berjuang atas nama kemerdekaan?

Namun begitu, … jujur saja, sepertinya aku harus merekonstruksi apa yang selama ini aku rasakan, aku yakini. Lepas dari prestasi beberapa gelintir generasiku, kondisi umum bangsaku yang saat ini berada pada level yang memprihatinkan telah membuatku merenung apakah aku pantas merasa sebagai anak muda dengan pola pikir yang maju, dinamis, dan progresif revolusioner. Apa yang telah aku sumbangkan pada generasiku? Apa yang telah aku perbuat untuk memenuhi harapan Soekarno: “seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu anak muda dapat mengubah dunia”?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>